-->
Categories Navigation Menu

“PRIMADONA” BARU : VIRUS CORONA WUHAN (2019-nCoV)

“PRIMADONA” BARU : VIRUS CORONA WUHAN (2019-nCoV)

Oleh : dr. Fauzia Andrini D. M.Kes
Dokter dan Dosen, KJF Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Riau, PAMKI komisariat Riau

Beberapa hari belakangan ini, dunia (termasuk Indonesia) disibukkan oleh berita tentang satu penyakit pernafasan fatal yang menyebar secara cepat ke berbagai negara. Penyakit tersebut disebabkan oleh virus jenis baru yaitu Virus Corona Wuhan atau Wuhan Corona Virus atau 2019-nCoV (2019 Novel Corona Virus). Tetapi apa sih sebenarnya Virus Corona ini ? Ada baiknya saya uraikan sedikit tentang virus secara umum.
Virus adalah salah satu jenis mikroba yang membutuhkan mahluk hidup lain untuk dapat bertahan hidup dan berkembang biak. Hal ini disebabkan karena ada beberapa komponen sel yang tidak dimiliki virus. Maka virus “menumpang” pada mahluk hidup lain (host/inang) untuk mempergunakan berbagai komponen sel milik mahluk hidup tersebut agar bisa bertahan.
Dalam memilih host-nya, virus mempunyai spesifisitas tersendiri. Artinya virus hanya mau menginfeksi host yang ia “kenal” saja. Oleh karena itu ada virus yang hanya dapat menginfeksi binatang saja, atau manusia saja, atau bahkan binatang dan juga manusia.
Mengapa bisa menginfeksi keduanya seperti itu ? Mari kita lihat salah satu contohnya yaitu virus avian flu (virus flu burung) yang sempat menghebohkan dunia beberapa tahun yang lalu. Virus flu burung ini pada mulanya hanya menginfeksi golongan unggas saja. Tetapi kemudian, ditemukan bahwa, virus ini ternyata juga dapat menginfeksi manusia. Hal ini terjadi karena material genetik virus ini mengalami mutasi berupa penggabungan genetik (genetic reassorment) antara virus yang “kenal” unggas dengan yang virus yang “kenal” manusia sehingga menghasilkan virus flu jenis baru yang dapat menginfeksi keduanya.
Dalam hal 2019-nCoV, sebenarnya Virus Corona ini bukan pertama kali menginfeksi dan menimbulkan epidemi pada manusia. Bila kita masih inget kasus SARS beberapa tahun yang lalu, yaitu SARS ini juga disebabkan oleh Virus Corona tetapi dari strain atau jenis yang berbeda dengan 2019-nCoV yang merupakan Virus Corona strain baru.
Beberapa waktu yang lalu diberitakan bahwa diduga virus ini ditularkan melalui kelelawar dan ular di daerah Wuhan, China karena virus yang menginfeksi penderita infeksi 2019-nCoV mirip dengan virus yang menginfeksi kedua binatang tersebut. Walaupun cara transmisi dan mutasi Virus Corona ini secara definitif masih dalam penelitian, tetapi bukan tidak mungkin strain Virus Corona baru ini dihasilkan melalui cara yang sama dengan virus flu burung yaitu melalui proses mutasi penggabungan genetik. Sehingga dihasilkanlah Virus Corona baru yang sekarang dapat menginfeksi binatang maupun manusia. Mengapa tidak dari dulu virus baru ini muncul mengingat penduduk Wuhan kabarnya telah mengkonsumsi daging kelelawar dan ular sejak puluhan tahun yang lalu dan selama ini baik-baik saja ? Kemungkinan karena dulu mutasi belum terjadi.
Yang lebih mengkhawatirkan baru-baru ini dilaporkan di salah satu jurnal internasional dan juga pendapat para ahli virus dunia bahwa penularan 2019-nCoV terkonfirmasi dapat terjadi dari manusia ke manusia (human to human transmission). Artinya tidak butuh lagi “media” binatang dalam penularan ke manusia karena virus ini bisa langsung “jump” menyebar dari manusia ke manusia. Hal ini menyebabkan penularan, jika tidak dikontrol, dapat terjadi sangat cepat. Terbukti dalam hitungan minggu bahkan hari, 2019-nCoV yang tadinya dilaporkan melanda Wuhan, China, kini telah menyebar ke negara lain dan dilaporkan terdapat pasien-pasien di beberapa negara di dunia yang terkonfirmasi menderita 2019-nCoV.
Kasus yang sama (walau dengan jenis virus yang berbeda) pernah terjadi beberapa puluh tahun yang lalu. Ribuan orang di dunia menjadi korban virus influenza jenis tertentu yang saat itu secara cepat menyebar dari orang ke orang. Saat itu banyak sekali orang yang terkena virus ini karena pada masa itu alat diagnostik, penanganan, vaksin dan terutama penanganan masalah public health (kesehatan masyarakat) belum semaju sekarang.
Mungkin ada sebagian dari kita yang berpendapat bahwa nanti juga akan segera ada vaksin untuk mencegah infeksi 2019-nCoV ini apalagi sekarang telah berhasil dipetakan seluruh gen dari Virus Corona Wuhan ini. Walaupun penelitian untuk upaya penanganan dan pembuatan vaksin terus dilakukan, perlu diketahui bahwa, pembuatan vaksin sama sekali tidak sederhana karena ada berbagai tahapan yang harus dilalui dari sejak tahap uji coba di laboratorium sampai uji klinis sehingga dinyatakan aman dipakai untuk manusia. Dan ini dapat memakan waktu sampai tahunan.
Maka dengan kenyataan tersebut, apa yang bisa dilakukan ? Apakah akan diam saja sementara korban semakin berjatuhan ? Selain upaya pembuatan obat dan vaksin yang terus dilakukan, dari WHO dan pemerintah setempat mengeluarkan langkah-langkah strategis untuk mengontrol penyebaran infeksi ini dari mulai isolasi kota, survey dan identifikasi penderita di tempat-tempat umum maupun bandara-bandara dll.
Bagaimana dengan kita sendiri ? Hal pertama adalah kita harus mengenali penyakit yang disebabkan oleh virus ini yaitu virus ini menyebar melalui percikan ludah atau droplet, kontak erat dengan penderita, dan memegang benda-benda yang terkontaminasi virus lalu langsung menyentuh hidung dan mulut. Gejalanya sendiri tidak khas yaitu dari mulai demam, batuk, pilek, sampai kesulitan bernafas. Maka selain meningkatkan kekebalan tubuh dengan makanan bergizi dan aktivitas fisik, sering mencuci tangan dengan antiseptik, berhati-hati jika mengkonsumsi makanan yang tidak matang, juga disarankan untuk hati-hati bahkan jika tidak terpaksa benar, untuk sementara jangan dulu berkunjung ke daerah yang dinyatakan terjangkit 2019-nCoV, seperti negara China.
Mengapa bepergian ke tempat seperti ini perlu digaris bawahi ? Karena risiko penularan akan semakin besar. Walaupun akhirnya, misalnya ketika pulang dari daerah setempat kita merasa baik-baik saja, tetap waspada karena bukan tidak mungkin kita masih dalam tahap masa inkubasi (yaitu masa masuknya mikroba sebelum muncul gejala klinis) dan nantinya dapat menjadi sumber penularan baru. Jikalau harus ke daerah tersebut, maka sebaiknya (terutama di tempat-tempat umum yang banyak kerumunan orang) menggunakan masker dan sering mencuci tangan dengan antiseptik. Selain itu, jika merasa memiliki gejala-gejala di atas, apalagi ada riwayat bepergian sebelumnya ke daerah terjangkit atau kontak erat dengan penderita, maka segeralah melapor ke pusat kesehatan setempat untuk dapat ditindak lanjuti.
Terakhir, hanya Allah lah sebaik-baiknya penolong. Maka hendaknya kita senantiasa memohon kepada Allah agar kita semua selalu dalam lindungan Allah. Aamien Ya Rabb

Disclaimer: artikel ini sudah dipublikasikan pada hariau Riau Pos, 27 Januari 2020 dengan mengalami penyuntingan

id_IDBahasa Indonesia
en_USEnglish id_IDBahasa Indonesia